1. Tarian Ramphak Geulumbang Raih Grand Prize di Italia, Harumkan Nama Indonesia
INews Aceh Tarian Ramphak Geulumbang dari Nanggroe Aceh Darussalam berhasil meraih Grand Prize of Folk Dance dalam kompetisi internasional bergengsi DANCING ITALY di Rimini, Italia. Grup seni dari SMP dan SMA Al Izhar Pondok Labu menjadi wakil Indonesia yang tampil memukau, menyisihkan lebih dari 200 peserta dari 17 negara.
Tarian ini merupakan kombinasi dari tiga tarian Aceh: Laweut, Ratoh Jaroe, dan Tarek Pukat, dengan koreografi energik dan penuh makna budaya. Tidak hanya itu, mereka juga memenangkan 1st Prize Place untuk kategori tarian Colours of Indonesia.
Kemenangan ini menjadi bukti kekuatan seni tradisional Indonesia di panggung global dan hasil dari pelatihan intensif selama 150 jam yang diakui oleh CID UNESCO.
2. Artikel Feature Budaya
Ramphak Geulumbang: Tarian dari Serambi Mekah yang Menyihir Eropa
Tarian Ramphak Geulumbang bukan hanya sebuah pertunjukan – ia adalah napas budaya Aceh yang kini menggema di Eropa. Dalam ajang DANCING ITALY 2025, gerakan tangan yang cepat, harmoni serunai, dan irama Rapai berhasil membuat panggung Rimini penuh decak kagum.
Gabungan nilai religius, sosial, dan estetika dari Laweut, Ratoh Jaroe, dan Tarek Pukat menjadikan Ramphak Geulumbang tak hanya menarik secara visual, tapi juga kaya secara makna. Performa para pelajar Al Izhar Pondok Labu membuktikan bahwa anak muda mampu menjadi jembatan diplomasi budaya yang halus namun kuat.
“Ini cara paling elegan untuk mengenalkan Indonesia: lewat gerakan, musik, dan makna,” ujar Mira Marina Arismunandar, koreografer utama dari Gema Citra Nusantara.

Baca Juga: Bank Aceh Genjot Pembiayaan UMKM, Salurkan Rp 2,53 Triliun Hingga Juni 2025
3. Artikel Pendidikan dan Prestasi Pelajar
Pelajar Indonesia Juara Dunia Lewat Tarian Aceh, Bukti Sinergi Pendidikan dan Budaya
Anak-anak SMP dan SMA Al Izhar Pondok Labu menorehkan tinta emas dengan memenangkan kompetisi tari internasional di Italia. Tidak hanya berkompetisi, mereka menjadi juara utama dalam kategori tarian tradisional lewat Ramphak Geulumbang.
Kegiatan ini bukan sekadar ekskul seni, melainkan hasil pembinaan budaya yang terintegrasi dalam sistem pendidikan. Dikelola bersama Gema Citra Nusantara dan Kiny Cultura Indonesia, program misi budaya tahunan ini bertujuan mencetak generasi pelajar yang global-minded namun berakar pada budaya nasional.
“Melalui pelatihan disiplin dan cinta budaya, anak-anak kita bisa bersaing di dunia,” ungkap Kiki Puspita Sari dari Kiny Cultura Indonesia.
4. Artikel Diplomasi Budaya
Tarian Ramphak Geulumbang Jadi Senjata Diplomasi Lembut Indonesia di Eropa
Kemenangan Ramphak Geulumbang dalam kontes internasional “DANCING ITALY” menjadi lebih dari sekadar prestasi seni. Ia adalah bentuk nyata dari diplomasi budaya Indonesia. Dengan koreografi khas Aceh yang energik, lirik religius, dan pakaian adat yang elegan, tarian ini menyentuh hati penonton internasional.
Pentas mereka dihadiri langsung oleh perwakilan dari UNESCO dan mendapat apresiasi tinggi. Dalam era di mana budaya menjadi sarana pengaruh global, penampilan ini mengukuhkan bahwa Indonesia punya warisan budaya yang layak bersaing di dunia.
“Yang muda, yang berbudaya. Itu pesan kami,” kata Kiki Puspita.
5. Tarian Ramphak: Suara Anak Muda dan Nasionalisme
Remaja Jakarta Bawa Tarian Aceh Juara Dunia: Bukti Cinta Budaya Tak Kenal Batas
Siapa bilang anak muda lebih suka budaya luar? Sekelompok pelajar dari Jakarta justru memilih menari tarian Aceh dan membawanya menang di panggung dunia. Mereka berlatih siang malam, menyatu dengan musik Rapai, dan mengenal nilai-nilai luhur dari tari tradisi.
Lewat Ramphak Geulumbang, mereka belajar bahwa mencintai budaya sendiri bisa sangat keren, bahkan mengesankan dunia.
“Kami nggak nyangka bisa menang. Tapi ternyata tarian tradisional kita bisa sangat powerful. Ini bikin kami makin cinta Indonesia,” kata salah satu penari muda.
Kisah mereka adalah kisah harapan: bahwa generasi muda bisa menjadi garda depan pelestarian budaya bangsa.






